Jumat, 12 November 2010

Meluruskan Shaf

Kita sering mendengar ucapan dari imam pada saat sebelum dimulai sholat berjemaah seperti ini "sawwu shufuu fakum fa inna taswiyatash shufuufi min tamamishsholat" atau dengan bahasa indonesia " Rapatkan shof2 kalian sesungguhnya rapatnya shof2 (bagian) dari sempurnanya sholat" yang kemudian para makmum menjawab dengan "Samikna wa atokna" yang artinya kami dengar & kami ta'at. Tapi kebanyakan masih belum mengerti maksud dan tujuan dari ucapan imam tersebut.

Disini cuma mau sedikit sharing hal ini yang sebelumnya dikira hal sepele namun ternyata amat sangat penting bagi kita sobat2 sekalian dalam menjalankan ibadah sholat saat berjamaah. Shaf dalam bahasa indonesia dapat diarti kan sebagai barisan, maka shaf sholat adalah barisan dalam sholat yang biasa dilakukan dengan berjamaah.
Dalam sholat berjamaah kelurusan shaf amat penting sehingga imam senantiasa mengingatkan pada makmum saat sebelum memulai sholat jamaah dengan mengucapkan seperti ucapan diatas tadi. Dalam hadist pun di jelaskan bahwa
“Adalah Rasulullah meluruskan shaf kami. Seakan-akan beliau meluruskan anak panah. Sampai beliau melihat, bahwa kami telah memenuhi panggilan beliau. Kemudian, suatu hari beliau keluar (untuk shalat). Beliau berdiri, dan ketika hendak bertakbir, nampak seseorang kelihatan dadanya maju dari shaf, Beliaupun berkata: Hendaklah kalian luruskan shaf kalian, atau Allah akan memecah-belah persatuan kalian. (HR. Muslim no. 436)
Dalam satu riwayat disebutkan, “Aku telah melihat salah seorang kami menempelkan bahunya ke bahu kawannya, kakinya dengan kaki temannya. Jika engkau lakukan pada zaman sekarang, niscaya mereka bagaikan keledai liar (tidak suka dengan hal itu, pen).” (HR Abu Ya’la dalam Musnad, no. 3720 dan lain-lain, sebagimana dalam Silsilah Shahihah, no. 31)
Dijelaskan pula di dalam hadits yang dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhariy dan Al-Imam Muslim dari shahabat Abu Abdillah An-Nu’man bin Basyir, beliau berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya),
"Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak), maka sungguh Allah akan memalingkan antar wajah-wajah kalian (menjadikan wajah-wajah kalian berselisih)." (HR. Al-Bukhariy no.717 dan Muslim 436))
Ketika manusia semakin banyak di masa khilafah ‘Umar Ibnul Khaththab, ‘Umar pun memerintahkan seseorang untuk meluruskan shaf apabila telah dikumandangkan iqamah. Apabila orang yang ditugaskan tersebut telah datang dan mengatakan, "Shaf telah lurus" maka ‘Umar pun bertakbir untuk memulai shalat.
Demikian juga hal ini dilakukan oleh ‘Utsman bin ‘Affan, beliau menugaskan seseorang untuk meluruskan shaf-shaf manusia, maka apabila orang tersebut datang dan mengatakan, "Shaf telah lurus", beliaupun bertakbir untuk memulai shalat.
Semuanya ini menunjukkan atas perhatian yang tinggi dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Khulafa`ur Rasyidin dalam masalah meluruskan shaf.
Bagaimana meluruskan shaf yang benar ? Maka
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Luruskan shaf kalian, jadikan setentang di antara bahu-bahu, dan tutuplah celah-celah yang kosong, lunaklah terhadap tangan saudara kalian dan jangan kalian meninggalkan celah-celah bagi syaithon. Barangsiapa menyambung shaf maka Allah menyambungkannya, dan barangsiapa yang memutuskan shaf maka Allah akan memutuskannya.” (HR. Bukhori, Abu Dawud no. 666)


Anas bin Malik berkata, Adalah salah seorang kami menempelkan bahunya ke bahu kawannya, kakinya dengan kaki kawannya. Dalam satu riwayat disebutkan, “Aku telah melihat salah seorang kami menempelkan bahunya ke bahu kawannya, kakinya dengan kaki temannya. Jika engkau lakukan pada zaman sekarang, niscaya mereka bagaikan keledai liar (tidak suka dengan hal itu, pen).” (HR Abu Ya’la dalam Musnad, no. 3720 dan lain-lain, sebagimana dalam Silsilah Shahihah, no. 31)

Berkata Syaikh Masyhur bin Hasan hafizhahullah, “Jika para jama’ah tidak mengerjakan apa yang dikatakan oleh Anas dan Nu’man; maka celah-celah tetap ada di shaf. Kenyataanya, Jika shaf dirapatkan, tentu shaf dapat diisi oleh dua atau tiga orang lagi. Akan tetapi, Jika mereka tidak melakukannya, niscaya mereka akan jatuh ke dalam larangan syari’at.

Diantaranya: (Lihat Akhtha-ul Mushallin, halaman 210-211)

1. Membiarkan celah untuk syetan dan Allah putuskan perkaranya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, bahwasanya Rasulullah bersabda, “Luruskanlah shaf kalian, dan luruskanlah pundak-pundak kalian, dan tutuplah celah-celah. Jangan biarkan celah-celah tersebut untuk syetan. Barangsiapa yang menyambung shaf, niscaya Allah akan menyambung (urusan)nya. Barangsiapa yang memutuskan shaf, niscaya Allah akan memutus (urusan)nya.” (HR Abu Daud dalam Sunan. no. 666, dan lihat Shahih Targhib Wa Tarhib, no. 495.)

2. Perpecahan hati dan banyaknya perselisihan diantara jama’ah.

3. Hilangnya pahala yang besar, sebagaimana diterangkan dalam hadits shahih, diantaranya sabda Rasulullah, "Sesungguhnya Allah dan MalaikatNya mendo’akan kepada orang yang menyambung shaf." (HR Ahmad dalam Musnad, 4/269, 285,304 dan yang Iainnya. Hadistnya shahih.)

Dari berbagai uraian diatas mestinya kita sebagai seorang muslim kembali berbenah untuk memperbaiki shaf kita saat sholat berjamaah. Dengan harapan semoga sholat kita dapat lebih khusyuk, lebih berkualitas dan yang terpenting mendapat ridho dan diterima Allah SWT.
Wallahu'alam.

2 komentar: